Obrolan Kamis Sore

Teman-teman, Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa Indonesia sebagai negara maritime, pulau-pulau terluar merupakan ga...

Fahri Budiman
Uni Konservasi Fauna IPB, Bogor
Jun 23, 2017

Susi dan Desi Akhirnya Lulus Sekolah Alam Liar

Susi dan Desi lulus sekolah alam liar. Empat tahun lebih kedua individu orangutan (Pongo pygmaeus) ini mengenyam

pendidikan di pusat rehabilitasi International Animal Rescue Indonesia atau Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kecamatan Sungai Awan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Di sana keduanya dilatih memanjat, mencari makan, membuat sarang serta berbagai kemampuan untuk bertahan hidup. Interaksi dengan manusia sangat diminimalisir. Proses ini dilakukan agar mereka bisa menjalani kehidupannya di alam setelah dilepaskan. Keduanya juga sudah menjalani simulasi kemampuan bertahan hidup.

Mereka selanjutnya dipindahkan ke pulau pre-release untuk dimonitoring. Pulau tersebut sebenarnya masih berada di kawasan pusat rehabilitasi YIARI. Keduanya memang dilepaskan, namun tetap diawasi.

Jumat, 20 Mei 2016 lalu, YIARI bersama Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah I (BKSDA SKW I) Ketapang dan Dinas Kehutanan melakukan pelepasan dua individu orangutan tersebut di Hutan Lindung Gunung Tarak, Ketapang. Susi adalah orangutan yang diselamatkan YIARI 2011 silam yang ketika itu sudah bertahun menjadi peliharaan warga Kota Pontianak.

Kondisinya memprihatinkan ketika diselamatkan. Di lehernya terdapat luka infeksi terbuka, bernanah dan mengeluarkan bau tak sedap. Luka yang disebabkan rantai yang mengikat kencang lehernya, bahkan ketika diperiksa, ada karet yang tertanam di kulit lehernya.

Untuk mengeluarkan karet tersebut, tim medis melakukan operasi. Tidak hanya itu, akibat rantai, ada bagian dalam organ tenggorokan Susi terluka yang membuatnya susah bernapas dan mengeluarkan suara aneh. Selama menjalani perawatan dan rehabilitasi, kondisi Susi makin membaik, tidak hanya fisik tapi juga mental.

Desi punya kisah lain. Orangutan usia 10 tahun ini berasal dari Kecamatan Simpang Hilir, Ketapang. Susi dievakuasi Maret 2012, yang merupakan peliharaan warga. Menurut pemiliknya saat itu, dia membeli Desi seharga Rp50 ribu pada 2010 dari temannya di hutan yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit.

Hasil monitoring Susi dan Desi selama di pulau pre-release di  Ketapang menunjukkan perkembangan positif. “Kondisi Susi bagus, dia sudah mampu mencari makan sendiri dan membua sarang. Kami yakin dia akan senang berada di rumah barunya,” jelas Christine Nelson, dokter hewan asal Amerika yang telah bekerja di YIARI sejak 2012.

 

Banyak kasus yang mengancam kehidupan orangutan, satu diantaranya adalah ditangkap untuk dijadikan satwa peliharaan. Foto: YIARI

Banyak kasus yang mengancam kehidupan orangutan, satu di antaranya adalah ditangkap untuk dijadikan satwa peliharaan. Foto: YIARI

Karmele Llano Sanchez, Ketua Program YIARI menuturkan, Susi telah bertahun menjadi hewan peliharaan. Dirantai secara kejam sehingga memberikan efek buruk kesehatannya. Beruntung dia diselamatkan. “Ada beberapa orangutan yang kami selamatkan, tapi terlambat untuk direhabilitasi, sehingga mereka akan tetap tinggal di pusat rehabilitasi seumur hidupnya.”

Perjalanan panjang pelepasan Susi dan Desi dimulai pukul 00.00 WIB dari Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi YIARI di Sungai Awan. Perjalanan menuju Gunung Tarak itu ditempuh selama lima jam. Setelah itu, tim melanjutkan berjalan kali yang melibatkan 16 porter untuk mengangkut kandang berisi orangutan sejauh 8 kilometer. Ketika dilepas di lokasi, Susi dan Desi tampak kebingungan, namun kemudian langsung berjalan dan memanjat pohon.

Tim monitoring

Susi dan Desi tentu saja dipantau perkembangannya di alam bebas. Tim monitoring yang  bertugas mencatat pergerakan, aktivitas, serta jenis makanan yang dimakan. Tim ini bekerja sebelum orangutan bangun sampai tidur di sarangnya.

Selain Susi, di Hutan Lindung Gurung Tarak juga ada Helen, Prima, dan Peni yang dipantau tim monitoring YIARI. Mereka sudah dipantau dua tahun lalu dan pemantauannya akan dihentikan karena hasilnya yang positif. “Tim monitoring orangutan melakukan pekerjaan luar biasa,” jelas drh. AdiIrawan, Manager Operasional YIARI. Mereka tinggal di pondok di tengah hutan, bangun dini hari dan kembali ke pondok ketika matahari terbenam, mengikuti orangutan hampir 14 jam.

“Kami sangat senang melihat semangat dan kepedulian mereka terhadap keberlangsungan hidup orangutan. Kami yakin kehadiran mereka akan memastikan keberhasilan hidup orangutan sebagaimana mestinya,” tambahnya.

Hutan yang terus dibuka membuat habitat alami orangutan semakin berkurang. Foto: YIARI

Hutan yang terus dibuka membuat habitat alami orangutan semakin berkurang. Foto: YIARI

Saat ini, YIARI menampung lebih dari 100 individu orangutan dan diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah sejalan dengan hilangnya habitat mereka, akibat pembukaan hutan untuk perkebunan. Ini juga menyebabkan YIARI kesulitan menemukan hutan yang aman untuk melakukan pelepasliaran.

Kami tidak bisa membayangkan masa depan orangutan kalau habitatnya hilang secepat ini. Mereka terancam oleh pembukaan hutan, kebakaran, juga perdagangan dan pemeliharaan seperti Susi dan Desi. “Jika masyarakat semakin peduli dengan populasi satwa dilindungi serta habitatnya ini, kemungkinan selamat dan bertambahnya populasi orangutan lebih besar. Meskipun, banyak individu yang harus diselamatkan,” harap cemas Karmele.

Orangutan Sintang

Victoria, si penanda waktu minum susu

Victoria (2 th), bayi orangutan betina, dievakuasi dari Desa Sebindang, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu dalam keadaan sehat.

Mamat, si Tangguh

Mamat berhasil diselamatkan oleh para petugas Balai KSDA Kalimantan Barat pada bulan September 2012 dari Desa

Berita Konservasi

Obrolan Kamis Sore